Jumat, 10 April 2009

Iri lah...

04 April 2009 jam 8:02
Selama ini saya sering mendengar seruan buanglah penyakit hati, salah satunya adalah iri. Namun pada acara halal bihalal TDA (Tangan Diatas) pada Sabtu, 08 Nopember 2008 di Darut Tauhid Bandung para undangan yang hadir malah diserukan untuk iri. Sang penyeru bernama mas Amri yang memiliki pekerjaan bersepeda dan hobi konsultan itu. “Kalau Anda ingin jadi pengusaha beneran, Anda harus iri”

Kepada siapa kita boleh iri? hanya kepada dua golongan saja. Pertama, orang kaya yang dermawan. Kedua, orang berilmu yang mengamalkan ilmunya. Dengan penjelasan itu pikiran sayapun jadi menerawang kepada sahabat-sahabat saya yang tergolong menjadi dua kelompok tersebut.

Orang yang kaya dermawan. Saya langsung teringat sahabat saya Happy Trenggono. Saat ini mas Happy sedang giat investasi di bidang alat-alat berat dan perkebunan. Pekan lalu saya baru bertemu mas Happy, dia baru saja menandatangani investasi di bidang perkebunan senilai Rp 2 trilyun. Melalui PT Balimuda ia mengembangkan bisnisnya di luar pulau Jawa.

Walau dia sibuk bisnis, ia tak melupakan nasib orang-orang yang kurang beruntung dari aspek ekonomi. Setiap pekan rumahnya dihadiri ratusan orang-orang miskin untuk mendapat jatah makanan. Bahkan ketika menjelang lebaran lalu, dia menyewa helikopter untuk pulang ke kampung karena tidak ingin terlambat membagikan bantuan kepada ribuan orang di kampungnya. Sensasi? tidak. Karena dia lakukan itu bukan karena ingin publisitas. Dia lakukan karena memang ingin membantu. Wah, betapa iri-nya saya.

Saya juga teringat sahabat saya, Iskandar Zulkarnain. Kaya raya, bisnisnya tersebar di mancanegera. Menjadi komisaris di berbagai perusahaan di Indonesia. Namun dia rela membagi-bagi nasi bungkus sendiri di daerah konflik Maluku, Buton, Ternate, Poso, Aceh, Yogyakarya. Diapun bersedia tidur di tenda-tenda bersama para pengungsi. Wah, betapa iri-nya saya.

Saya juga ingat sahabat saya yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Mas Rohim, bukanlah dosen, bukan akademisi, bukan pakar dan bukan juga guru besar. Ilmunya tidak seberapa dibandingkan mereka. Namun ilmu sedikit yang ia miliki rela dibagi cuma-cuma kepada tiga ribu lebih anak jalanan di daerah Depok. Ia membuat program bernama Master (Masjid Terminal). Area masjid di terminal Depok dia jadikan tempat belajar gratis para anak jalanan. Ia angkat harkat dan martabat anak-anak jalanan agar kelak tidak lagi hidup di jalanan. Hasilnya, ribuan anak telah diberdayakan. Wah, betapa irinya saya.

Saya juga punya sahabat ahli tanaman organik. Bahkan dia pernah berguru ke Jepang untuk mendalami ilmunya. Syamsudin namanya. Putra Brebes ini kini sedang kuliah S-3 di IPB Bogor. Ilmu yang ia miliki dibagikan cuma-cuma kepada ribuan petani di berbagai daerah. Ia membentuk LPS (Lembaga Pertanian Sehat). Ribuan petani meningkat taraf kesejahteraannya, karena dengan tanaman organik yang dikembangkan para petani meningkat penghasilannya. Saya pernah bersama beliau mengunjungi desa yang ia bina dan mencicipi makanan organik yang dihidangkan petani. Para petani sangat hormat dan sangat dekat dengan mas Syamsudin. Wah, betapa iri-nya saya.
Ya, saya memang harus iri kepada mereka. Begitupun Anda, Iri-lah. Salam SUKSESMULIA
Jamil Azzaini (JA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar